Isim Buduh (Budduhun) dalam Kitab Jawahirul Lama'ah: Pengertian, Kaifiyah, dan Nilai Spiritual
Mengenal Isim Buduh dalam Tradisi Ilmu Hikmah
Dalam berbagai kitab ilmu hikmah klasik terdapat pembahasan mengenai Isim Buduh atau Budduhun, yaitu rangkaian huruf yang dikenal dalam sebagian tradisi sebagai salah satu simbol spiritual.
Salah satu kitab yang membahasnya adalah Jawahirul Lama'ah fi Asrar al-Hikmah karya yang dinisbatkan kepada Syekh Ali Abu Hajrah Al-Marzuki. Di dalamnya dijelaskan beberapa kaifiyah pengamalan yang berkembang dalam tradisi ilmu hikmah.
Catatan Penting: Penjelasan berikut merupakan uraian mengenai isi sebuah tradisi kitab hikmah. Tidak terdapat dalil sahih dalam Al-Qur'an maupun hadis yang menetapkan khasiat tertentu dari praktik tersebut. Seorang Muslim tetap meyakini bahwa hanya Allah SWT yang membolak-balikkan hati manusia dan memberikan kasih sayang di antara mereka.
Apa Itu Isim Buduh?
Dalam tradisi ilmu hikmah, Buduh (بدوح) dipahami sebagai susunan huruf yang memiliki nilai simbolik tertentu.
Sebagian penulis kitab menghubungkannya dengan nilai angka (hisab abjad), yaitu:
Ba (ب)
Dal (د)
Wawu (و)
Ha (ح)
Susunan huruf tersebut dikenal dalam sebagian literatur hikmah sebagai salah satu isim yang digunakan dalam berbagai bentuk riyadah atau pengamalan spiritual.
Kaifiyah yang Disebutkan dalam Kitab
Dalam penjelasan kitab yang dikutip pada video, disebutkan sebuah kaifiyah sebagai berikut:
Membaca lafaz Budduhun sebanyak 20 kali.
Setelah itu menggunakan sebuah alat untuk memotong makanan.
Tradisi tersebut kemudian mengaitkan pengamalan tersebut dengan harapan munculnya rasa kasih sayang atau kedekatan dari orang yang memakan makanan tersebut.
Namun, keyakinan seperti ini merupakan bagian dari tradisi ilmu hikmah dan tidak dapat dipastikan kebenarannya sebagai ajaran yang bersumber dari Al-Qur'an maupun hadis.
Pandangan Islam tentang Kasih Sayang
Dalam ajaran Islam, rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan hati merupakan karunia Allah SWT.
Allah berfirman bahwa Dia-lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang di antara manusia. Oleh karena itu, hubungan yang baik lebih dianjurkan dibangun melalui:
- Akhlak yang mulia.
- Kejujuran.
- Sikap amanah.
- Kelembutan dalam berbicara.
- Tolong-menolong dalam kebaikan.
- Doa kepada Allah SWT.
Cara Mendapatkan Simpati Orang Lain Menurut Islam
Daripada berusaha memengaruhi orang lain melalui praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat, Islam lebih menganjurkan untuk:
- Memperbaiki akhlak.
- Tersenyum kepada sesama.
- Menjaga amanah.
- Menepati janji.
- Berbicara dengan lemah lembut.
- Mendoakan kebaikan bagi orang lain.
- Memperbanyak zikir dan doa.
Cara-cara tersebut lebih sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam membangun hubungan yang baik dengan sesama.
Hikmah Mempelajari Kitab Hikmah
Mempelajari kitab-kitab hikmah dapat menjadi bagian dari mengenal sejarah intelektual dan budaya Islam, selama disertai sikap kritis dan tidak meyakini setiap praktik di dalamnya sebagai tuntunan agama yang pasti.
Seorang Muslim tetap menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman utama dalam beribadah dan bermuamalah.
Penutup
Pembahasan mengenai Isim Buduh (Budduhun) dalam Kitab Jawahirul Lama'ah merupakan bagian dari tradisi ilmu hikmah yang berkembang di sebagian kalangan. Sebagai Muslim, kita tetap meyakini bahwa hanya Allah SWT yang memberikan kasih sayang, membukakan hati manusia, dan mengabulkan doa.
Semoga Allah SWT menghiasi hati kita dengan akhlak yang mulia, mempererat hubungan baik dengan sesama, memberikan keberkahan dalam kehidupan, serta membimbing kita untuk selalu berada di atas jalan yang lurus. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
.

💬 Komentar